Tinjauan Konstitusional Penunjukan Penjabat Kepala Daerah Berdasarkan Prinsip Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat

Penelitian

Authors

  • Putri Zein Handayani Universitas Esa Unggul
  • Ernawati Universitas Esa Unggul

DOI:

https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i3.4866

Keywords:

Popular Sovereignty, Acting Regional Head, Democracy

Abstract

The principle of popular sovereignty as enshrined in Article 1 paragraph (2) and Article 18 paragraph (4) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia mandates that regional head positions must be filled democratically. However, the 2024 simultaneous regional election policy resulted in leadership vacancies across 271 regions, which were subsequently filled through an appointment mechanism under the Minister of Home Affairs Regulation Number 4 of 2023. This research aims to analyze the conflict between the necessity of filling administrative vacancies and democratic ideals, while critically examining central government dominance within the process. The research method employed is normative legal research with statutory and conceptual approaches conducted through literature review. The results indicate that the direct appointment mechanism by the President and the Minister of Home Affairs has effectively amputated the people's right to sovereignty in the regions. The role of the Regional House of Representatives (DPRD) has been reduced to a mere administrative formality, leading to a deficit in moral legitimacy and a shift in accountability from horizontal (to the local community) to vertical (to central authorities). This top-down and closed appointment process has proven to trigger public resistance, as evidenced by cases in Jayapura Regency and Morotai Island. In conclusion, a regulatory reconstruction prioritizing the principle of meaningful participation is essential to ensure that the governmental transition remains rooted in the spirit of popular sovereignty and constitutional regional autonomy.

References

Ahmad, S., Simin, F. A., & Umakaapa, M. H. (2023). Konflik kewenangan pengangkatan penjabat kepala daerah: Kasus pejabat Bupati Pulau Morotai Maluku Utara tahun 2022. Comserva, 2. https://doi.org/10.36418/comserva.v2i09.571

Aldi Pratama, A., Tajali Nur, I., & Erwinta, P. (2024). Problematika pengangkatan penjabat kepala daerah sebagai dampak penetapan pilkada serentak tahun 2024. Jurnal Hukum Bisnis, 13(1), 1–3. https://doi.org/10.47709/hukumbisnis.v13i01.3531

Arhdan, S. M., & Khairani. (2023). Urgensi pengisian jabatan kepala daerah pada masa transisi pilkada tahun 2024 menurut peraturan perundang-undangan. Unes Law Review, 5(3). https://doi.org/10.31933/unesrev.v5i3

Asshiddiqie, J. (2018). Pengantar ilmu hukum tata negara (Ed. 2018). Rajawali Pers.

Assyayuti, M. M. (2022). Urgensi penataan ulang mekanisme pengisian jabatan penjabat kepala daerah perspektif demokrasi konstitusional. Jurnal Legislasi Indonesia, 7(2). https://doi.org/10.20885/jlr.vol7.iss2.art5

Atfalina, H. (2025a). Implementasi kewenangan penjabat wali kota pada masa transisi Pilkada 2024 dalam mewujudkan konsep good governance ditinjau dari Permendagri Nomor 4 Tahun 2023 (Studi kasus di Pemerintah Kota Cirebon) [Skripsi]. Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon.

Atfalina, H. (2025b). Implementasi kewenangan penjabat wali kota pada masa transisi Pilkada 2024 dalam mewujudkan konsep good governance ditinjau dari Permendagri Nomor 4 Tahun 2023 (Studi kasus di Pemerintah Kota Cirebon) [Skripsi]. Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon.

Aunurrahman, Y., & Asmara, G. (2024). Diskresi kewenangan penjabat kepala daerah dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah tahun 2024 menurut hukum positif. https://setkab.go.id/

Budi Prayitno, R., & Prayugo, A. (2023). Teori demokrasi: Memahami teori dan praktik. Deepublish.

Chandra, S. Y., H. (2024). Konsekuensi pemilihan kepala daerah serentak 2024: Perluasan makna demokratis dalam pengisian penjabat kepala daerah. Konferensi Nasional Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara, 2(1), 161–196. https://doi.org/10.55292/a2b1se52

Derajat Utama, D., & Suhariyanto, D. (2023). Politik hukum pengisian jabatan gubernur, bupati, dan wali kota sebagai kepala pemerintahan daerah. Innovative: Journal of Social Science Research, 3(4). https://j-innovative.org/index.php/Innovative

Fatkul Fikri, A. (2025). Penjabat kepala daerah dan tantangan demokrasi lokal: Acting regional heads and the challenges of local democracy. Jurnal Ilmu Pemerintahan, Administrasi Publik, dan Ilmu Komunikasi, 7(2). https://doi.org/10.31289/jipikom.v7i2.6455

Fuady, M. (2014). Teori-teori besar (grand theory) dalam hukum. Prenada Media.

Indara, R., Kumci, K., Tugas, P., & Daerah, P. (2024). Problem kewenangan pelaksana tugas (PLT) dalam masa peralihan pemerintahan daerah sebelum dan sesudah pilkada serentak berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah. Jurnal Sains Sosio Humaniora, 8(2), 22. https://doi.org/10.22437/jssh.v8i2

Kusuma Dewi, A. (2024). Pengisian kekosongan jabatan kepala daerah dalam perspektif fiqh siyasah dan hukum positif [Skripsi]. Institut Agama Islam Negeri Ponorogo.

Laode Harjudin, La Tarifu, Ridwan, H., & Elwan, L. O. M. (2023). Menggugat penunjukan penjabat (Pj) kepala daerah tanpa pemilihan. Publicuho, 5(4), 1355–1366. https://doi.org/10.35817/publicuho.v5i4.73

Ramdani, D. (2022). Problematika penunjukan penjabat kepala daerah pada masa transisi pilkada serentak nasional tahun 2024 [Skripsi]. Universitas Islam Indonesia.

Rismahayani, & Aprinelita. (2023). Tinjauan yuridis penjabat kepala daerah dalam persiapan pemilihan kepala daerah serentak 2024. Kodifikasi, 5(1). https://ejournal.uniks.ac.id/index.php/kodifikasi/article/view/2885

Rivaldo, H. (2024). Tinjauan yuridis penunjukan penjabat (Pj) kepala daerah pada masa transisi pilkada serentak tahun 2024 pasca Putusan MKRI Nomor 67/PUU-XIX/2021 [Skripsi]. Universitas Borneo Tarakan. https://repository.ubt.ac.id/repository/UBT08

Rowa, D. H., & Si, M. (2015). Demokrasi dan kebangsaan Indonesia. Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Kementerian Dalam Negeri.

Singh, R., & Syahur, T. (2023). Teori kedaulatan rakyat berdasarkan konstitusi. 2(7), 2023–2054. https://repository.uin-suska.ac.id/18498/9/8.%20BAB%20III%202018548IH.pdf

Sonya Djehamur, E., Yohanes, S., & Nuban, D. K. E. R. (2025). Penunjukan penjabat kepala daerah oleh pemerintah pusat dalam hubungan dengan hukum dan demokrasi. Jurnal Proyuris, 7.

Sugiharta, I. R., Fauziyah, F., & Fitri, I. C. (2024). Kontroversi pengisian kekosongan jabatan gubernur dalam perspektif demokrasi di Indonesia. Indonesian Journal of Law and Justice, 1(4), 8. https://doi.org/10.47134/ijlj.v1i4.2260

Sutrisno, H., & Maimory, A. A. N. (2024). Implikasi hukum penunjukan penjabat kepala daerah Kabupaten Kampar oleh pemerintah pusat dalam perspektif Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang pemilihan kepala daerah. Themis: Jurnal Ilmu Hukum, 82–86. https://doi.org/10.70437/themis.v1i2.1507

Taufiqurrahman. (2024). Konstitusionalitas Peraturan Menteri Dalam Negeri: Studi terhadap Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2023 tentang penjabat gubernur, penjabat bupati, dan penjabat wali kota. Lex Renaissance, 9(1), 85–107. https://doi.org/10.20885/jlr.vol9.iss1.art5

Tommy Kusuma, M., Rohmah, E. I., & Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. (2022). Kekosongan jabatan dan implikasi sosial yuridis. Sosio Yustisia: Jurnal Hukum dan Perubahan Sosial, 2(2). https://doi.org/10.15642/sosyus.v2i2.200

Downloads

Published

07-01-2026

How to Cite

Putri Zein Handayani, & Ernawati. (2026). Tinjauan Konstitusional Penunjukan Penjabat Kepala Daerah Berdasarkan Prinsip Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat: Penelitian. Jurnal Pengabdian Masyarakat Dan Riset Pendidikan, 4(3), 16979–16987. https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i3.4866