Hermeneutika Kecurigaan Terhadap Tren Flexing: Menyingkap Lapisan Makna Tersembunyi dan Simbol Semiotika di Media Sosial

Penelitian

Authors

  • Bernase Titaley Institut Agama Kristen Negeri Ambon
  • Elka Anakotta Institut Agama Kristen Negeri Ambon
  • Selderika Patty Institut Agama Kristen Negeri Ambon

DOI:

https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i4.6491

Keywords:

Hermeneutics, flexing, social media, digital syimbols, existential identity

Abstract

Fenomena flexing di media sosial berkembang menjadi lebih dari sekadar praktik pamer kekayaan, tetapi telah menjadi bahasa simbolik dalam budaya digital kontemporer. Melalui platform seperti TikTok, Instagram, dan Facebook, individu membangun identitas diri melalui representasi visual berupa barang mewah, perjalanan eksklusif, dan gaya hidup konsumtif. Penelitian ini bertujuan membongkar makna tersembunyi dibalik praktik flexing menggunakan pendekatan Hermeneutika Kecurigaan dari Paul Ricoeur. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif interpretatif dengan pendekatan fenomenologi-hermeneutik. Dalam penelitian ini, flexing dipahami bukan hanya sebagai realitas objektif, tetapi sebagai teks simbolik yang mengandung makna ideologis, psikologis, sosial, dan eksistensial.             Hasil kajian menunjukkan bahwa praktik flexing sering kali menjadi bentuk kompensasi atas kecemasan sosial, kebutuhan validasi, krisis identitas, dan alienasi individu di tengah budaya kapitalisme digital. Simbol kemewahan yang ditampilkan tidak selalu merepresentasikan kepemilikan nyata, melainkan berfungsi sebagai topeng sosial demi memperoleh pengakuan dan status di ruang publik digital. Selain itu, budaya flexing memperlihatkan bagaimana media sosial membentuk standar keberhasilan dan citra diri yang semu. Dengan demikian, Hermeneutika Kecurigaan membuka ruang pembacaan kritis terhadap budaya digital yang selama ini diterima secara literal oleh masyarakat sehingga pengguna media sosial dapat lebih reflektif dalam memahami simbol dan realitas di dunia digital.

References

Baudrillard, Jean. Simulacra and Simulation. Michigan: University of Michigan Press, 1994.

Baudrillard, Jean. The Consumer Society: Myths and Structures. London: Sage Publications, 2016.

Barthes, Roland. Mythologies. New York: Hill and Wang, 2012.

Bauman, Zygmunt. Liquid Modernity. Cambridge: Polity Press, 2000.

Creswell, John W. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. California: Sage Publications, 2018.

Goffman, Erving. The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Anchor Books, 1959.

Heidegger, Martin. Being and Time. New York: Harper & Row, 2008.

Hine, Christine. Virtual Ethnography. London: Sage Publications, 2000.

Marwick, Alice E. Status Update: Celebrity, Publicity, and Branding in the Social Media Age. New Haven: Yale University Press, 2015.

Moustakas, Clark. Phenomenological Research Methods. California: Sage Publications, 1994.

Rambukkana, Nathan. “Digital Intimacies and the Culture of Visibility in Social Media.” Social Media + Society 8, no. 2 (2022): 1–11.

Ricoeur, Paul. Freud and Philosophy: An Essay on Interpretation. New Haven: Yale University Press, 2008.

Ricoeur, Paul. Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning. Texas: Texas Christian University Press, 1976.

Turkle, Sherry. Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. New York: Basic Books, 2017.

Downloads

Published

23-05-2026

How to Cite

Bernase Titaley, Elka Anakotta, & Selderika Patty. (2026). Hermeneutika Kecurigaan Terhadap Tren Flexing: Menyingkap Lapisan Makna Tersembunyi dan Simbol Semiotika di Media Sosial: Penelitian. Jurnal Pengabdian Masyarakat Dan Riset Pendidikan, 4(4), 25829–25834. https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i4.6491