Pengembangan Karakter Siswa SMP di Daerah Kepulauan Terpencil melalui Pendekatan Neurobiologi dan Psikologi Perkembangan: Studi Pengabdian Partisipatif di Kepulauan Banda, Maluku Tengah
Pengabdian
DOI:
https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i4.6703Keywords:
Pendidikan karakter; Kepulauan Banda; neurobiologi; psikologi perkembangan; regulasi emosi; sekolah terpencilAbstract
Pendidikan karakter bagi siswa SMP di daerah kepulauan terpencil menghadapi tantangan yang unik akibat isolasi geografis danketerbatasan sumber daya manusia profesional serta minimnya program intervensi berbasis bukti. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan karakter dari 15 siswa kelas VII di SMP Negeri 10 Maluku Tengah yang berada di Pulau Ay di Kepulauan Banda dengan pendekatan integratif yang menggabungkan neurobiologi dan psikologi perkembangan. Enam masalah karakter utama teridentifikasi: disiplin rendah, kesulitan dalam regulasi emosi, motivasi belajar intrinsik yang rendah, perilaku bullying, melemahnya etika sosial, dan apatisme siswa. Dengan menggunakan desain Community-Based Participatory Action (CBPA), program ini menerapkan enam metode sinergis yaitu workshop tentang neurobiologi remaja secara psychoeducative; kuliah ilmiah konteks; permainan edukatif; wawancara kelompok mendalam oleh mahasiswa biologi; refleksi kelompok yang difasilitasi; serta observasi perilaku terstruktur. Data dikumpulkan dari 11 kelompok mahasiswa mencakup 20 subjek siswa dari dua sekolah. Hasil penelitian menegaskan bahwa ketidakseimbangan antara sistem limbik dan korteks prefrontal yang belum matang muncul dalam perilaku siswa. Walaupun terdapat berbagai tantangan, para siswa menunjukkan sikap sosial positif yang kuat serta motivasi berbasis keluarga dan rasa ingin tahu tinggi sebagai aset karakter utama. Program ini menghasilkan lima kategori hasil: dampak pada siswa dan sekolah; inovasi produk (modul pembelajaran dan panduan permainan); publikasi akademik; serta pengembangan kapasitas bagi siswa dan dosen. Model ini membuktikan bahwa intervensi karakter berbasis ilmu pengetahuan yang kontekstual dapat dilaksanakan dengan efektif di sekolah-sekolah Tertinggal
References
Amalia, R. R., Oktaviani, F. S., & Andayani, S. R. D. (2024). Pengaruh pendidikan karakter anti-bullying terhadap kesehatan mental peserta didik di SMP Khoiriyah Sumobito. Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing), 10(2), 415–420. https://doi.org/10.33023/jikep.v10i2.2181
Anggraini, Maryam, Widyastuti, & Affandi. (2023). Psikoedukasi keterampilan regulasi emosi pada siswa SMP Negeri di Makassar. Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 1197–1205.
Arni, Putri, V. A., & Yusriani. (2023). Pendidikan karakter sebagai strategi mencegah perilaku bullying di sekolah dasar. JSES: Jurnal Sultra Elementary School, 4(2), 615–628.
Blakemore, S.-J. (2012). Imaging brain development: The adolescent brain. NeuroImage, 61(2), 397–406. https://doi.org/10.1016/j.neuroimage.2011.11.080
Casey, B. J., Getz, S., & Galvan, A. (2008). The adolescent brain. Developmental Review, 28(1), 62–77. https://doi.org/10.1016/j.dr.2007.08.003
Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and crisis. W. W. Norton & Company.
Hasni, N. I., Supriatun, E., & Asyari, H. (2024). Optimalisasi pengembangan karakter melalui psikoedukasi pergaulan bebas pada remaja. Jurnal Inovasi Hasil Pengabdian Masyarakat (JIPEMAS), 8(1), 48–58. https://doi.org/10.33474/jipemas.v8i1.22509
Hilaliyah, N., Darmawan, A. I., & Suryati. (2024). Hubungan antara regulasi emosi dengan bullying pada remaja siswa kelas VII di SMPN 1 Imogiri Yogyakarta. Cendekia Sehat: Jurnal Penelitian Keperawatan, 1(1), 01–06.
Howard-Jones, P. A. (2014). Neuroscience and education: Myths and messages. Nature Reviews Neuroscience, 15(12), 817–824. https://doi.org/10.1038/nrn3817
Immordino-Yang, M. H., & Damasio, A. (2007). We feel, therefore we learn: The relevance of affective and social neuroscience to education. Mind, Brain, and Education, 1(1), 3–10. https://doi.org/10.1111/j.1751-228X.2007.00004.x
Jensen, F. E. (2015). The teenage brain: A neuroscientist's survival guide to raising adolescents and young adults. Harper Paperbacks.
Kartika Wati, R., Fitriani, & Priyanto, E. (2024). Peran guru Pendidikan Pancasila melalui keteladanan dalam membentuk karakter kedisiplinan peserta didik kelas 9 SMP Negeri 2 Purbalingga. PACIVIC: Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 4(1), 1–9. https://doi.org/10.36456/p.v4i1.8946
Kohlberg, L. (1984). The psychology of moral development: The nature and validity of moral stages. Harper & Row.
Kolb, D. A. (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. Prentice-Hall.
Lickona, T. (2004). Character matters: How to help our children develop good judgment, integrity, and other essential virtues. Touchstone.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. (2017). Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Puspa, S. V. D., & Utanto, Y. (2025). Peran pendidikan karakter pada SMP Negeri di Kota Semarang dalam mengatasi bullying. JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 8(8), 9733–9741.
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68
Siegel, D. J. (2013). Brainstorm: The power and purpose of the teenage brain. Jeremy P. Tarcher/Penguin.
Steinberg, L. (2014). Age of opportunity: Lessons from the new science of adolescence. Houghton Mifflin Harcourt.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Yulian Hermanus Wenno, Cynthia Petra Haumahu, Criezta Korlefura, Juni Nikijuluw

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.












