Membangun Budaya Kerja Inovatif Kaum Milenial Pelaku UMKM Di Desa Waai

Pengabdian

Authors

  • Agusthina Risambessy Universitas Pattimura
  • Paulus Liberthy Wairisal Universitas Pattimura
  • Ema lisaholet Universitas Pattimura
  • Wisye Telussa Universitas Pattimura
  • Jeannethe L. Sahertian risambessyagusthina68@gmail.com
  • Margaretha C. Bonara Universitas Pattimura
  • Tince Z. Parera Universitas Pattimura
  • Valiant C. Leihitu Universitas Pattimura

DOI:

https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i4.6715

Keywords:

membangun Budaya, Kerja Inovatif.

Abstract

UMKM di menjadi motor penggerak utama ekonomi daerah dengan puluhan ribu pelaku usaha yang dengan berbagai jenis usaha. Pemerintah terus mendorong UMKM melalui digitalisasi, penyaluran KUR, bantuan modal, dan penataan ruang publicmulai dari perkotaan samp[ai masyarakat desa.  Pembangunan masyarakat pedesaan merupakan bagian penting dari perwujudan pembangunan otonomi daerah dalam rangka pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Desa waai merupakan salah satu desa yang berkedudukan di kecamatan salahutu pulau Ambon namun termasasuk dalam daerah administrasi kabupaten Maluku Tengah yang memiliki begitu banyak potensi wisata dan juga sumber kekayaan alam yang unik. Desa ini dianggap memiliki potensi yang unik karena berkedudukan dibawah kaki gunung salahutu dan letaknya juga dipesisir pantai dan dikelilingi oleh aliran Air sungai yang sejuk, memiliki beberapa air terjun yang indah dan dilengkapi dengan wisata rumah pohon sebagai potensi wisata kreatif di Indonesia Timur. Kini desa waai  menjadi  pelabuhan  wisata  ke  pulau  Pombo, juga memiliki potensi laut indah, serta tanah yang subur yang berpotensi memberi hasil panen yang baik bagi para petani. Karena kedudukan tidak jauh dari kota maka usaha diera digital pun tidak dapat diabaikan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Untuk mempromosikan seluruh potensi yang ada pada desa Waai. Kemampuan masyarakat desa Waai dalam mengelola usaha tidak perlu diragukan namun yang perlu dikembangkan adalah membangun budaya inovasi dalam usaha itu yang belum diperhatikan dengan baik, dengan demikian perlu untuk mempersiapkan masyarakat mengembangkan ketrampilan dan menjadikan usaha inovatif dengan cara melakukan pemberdayaan masyarakat dalam membangun budaya inovatif dierah digital. 

References

Bass, B. M., & Avolio, B. J. (1994). Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership.

Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350–383.

Gallup. (2023). The Real Value of a Culture of Innovation. Harvard Business Review. (2022). Why Innovation Fails and What You Can Do About It.

McKinsey & Company. (2023). Innovation Performance Survey: What’s Missing?

Schein, E. H. (2010). Organizational Culture and Leadership (4th ed.). Jossey-Bass.

West, M. A., & Farr, J. L. (1990). Innovation and Creativity at Work. Wiley.

Downloads

Published

09-06-2026

How to Cite

Agusthina Risambessy, Paulus Liberthy Wairisal, Ema lisaholet, Wisye Telussa, Jeannethe L. Sahertian, Margaretha C. Bonara, Tince Z. Parera, & Valiant C. Leihitu. (2026). Membangun Budaya Kerja Inovatif Kaum Milenial Pelaku UMKM Di Desa Waai: Pengabdian. Jurnal Pengabdian Masyarakat Dan Riset Pendidikan, 4(4), 26746–26750. https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i4.6715

Most read articles by the same author(s)