Fenomena Cancel Culture Dan Dampaknya Terhadap Kebebasan Berekspresi
Penelitian
DOI:
https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i2.4267Keywords:
Cancel Culture, Media Sosial, Kebebasan Berekspresi.Abstract
Cancel culture merupakan salah satu fenomena dari budaya digital. Penelitian ini bertujuan mengkaji fenomena cancel culture dengan fokus pada karakteristik, faktor yang mempengaruhi, serta dampak positif dan negatifnya. Metode penelitian menggunakan wawancara mendalam, observasi di lapangan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cancel culture memiliki karakteristik respons cepat dan massal, mob mentality, serta dampak jangka panjang dan polarisasi konflik. Faktor yang mempengaruhinya meliputi peran media sosial, kesadaran sosial yang meningkat, kurangnya literasi digital, dan mob mentality. Dampak positifnya antara lain meningkatkan akuntabilitas publik, memberdayakan suara korban, dan mendorong perubahan perilaku. Namun, dampak negatifnya juga signifikan, seperti membatasi kebebasan berekspresi, potensi penyalahgunaan, dan dampak psikologis serius pada individu yang di-cancel. Penelitian ini merekomendasikan edukasi literasi digital dan kebijakan yang mendukung penggunaan media sosial secara bertanggung jawab untuk mengelola fenomena ini dengan bijak.
References
Arianto, B. (2022). Melacak Gerakan Masyarakat Sipil Melalui Tagar #Reformasi Dikorupsi di Twitter. Jurnal ILMU KOMUNIKASI, 19(1). https://doi.org/ 10.24002 /jik.v19i1.3994
Azra, A. (2021). Media Sosial dan Tantangan Demokrasi di Indonesia. Jakarta: Kompas Gramedia.
Bouvier, G. (2020). Racist Call-Outs And Cancel Culture On Twitter: The Limitations Of The Platform’s Ability To Define Issues Of Social Justice. Discourse, Context and Media, 38. https://doi.org/10.1016/j.dcm.2020.100431
Brooke, A. (2024). Everyone’s so Intolerant Online. Am I Right To Stay Silent? The Guardian. https://www.theguardian.com/wellness/article/2024/may/22/cancel-culture-social-media
Browning, J., & Adams, Z. (2023). Why Twitter Does Not Gamify Communication. Inquiry (United Kingdom). https://doi.org/10.1080/0020174X.2023.2261489
Clark, L. (2022). The Psychological Impact Of Cancel Culture . Journal of Social Psychology, 45(4), 123-135.
Dershowitz, A. (2020). Cancel Culture: The Latest Attack on Free Speech and Due Process. Hots Book.
Elindawati, R. (2021). Gerakan #MeTooSebagai Perlawanan Kekerasan Seksual yang DialamiPerempuan di Indonesia. Al-Wardah: Jurnal Kajian Perempuan, Gender dan Agama. 15(1): 17:30
Firmanzah. (2022). Media Sosial dan Dinamika Opini Publik. Jakarta: Paramadina Press.
Gerung, R. (2022). Filsafat dan Konflik Sosial di Era Digital. Jakarta: Kompas Gramedia.
Ginanjar, A. S. (2023). Dampak Psikologis Media Sosial. Jakarta: UI Press.
Hardiman, B. F. (2021). Aku Klik maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital. Yogyakarta: Kanisius.
Hasna, A. A., & Hendratomo, G. (2024). Cancel Culture Pelaku Pelecehan Seksual di Media Sosial. Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi, 13(1). https://doi.org/ 10.21831/dimensia.v13i1.60990
Huda, N. (2022). Dampak Cancel culture terhadap Kebebasan Berekspresi. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Juniman, P. T. (2023). Analisis Kritis Fenomena Cancel Culture dan Ancaman terhadap Kebebasan Berekspresi. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan, 18(1), 1–14. https://doi.org/10.37680/adabiya.v18i1.2451
Mulia, M. (2021). Kekerasan Massal di Era Digital. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ng, E. (2021). Cancel culture : A Double-Edged Sword. Social Media + Society, 7(3), 1-10.
Ng, E. (2020). No Grand Pronouncements Here...: Reflections on Cancel Culture and Digital Media Participation. Television & New Media, 21(6), 621–627. https://doi.org/10.1177/1527476420918828
Norris, P. (2021). Cancel culture: Myth or reality? Political Studies, 70(1), 206–230. https://doi.org/10.1177/00323217211037024
Norlock, K. (2020). Canceling and Accountability. Journal of Ethics and Social Philosophy, 18(2), 1-15.
Poerwandari, E. K. (2023). Dampak Psikologis Cancel culture . Jakarta: UI Press.
Rakatiwi, Y., Rubino, R., & Mailin, M. (2024). Mekanisme Cancel Culture Dalam Gerakan #Stoptoxic: Studi Transformasi Kritik Ke Isolasi Digital Di Platform Twitter. Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Media Sosial (JKOMDIS), 4(3), 931–942. https://doi.org/10.47233/jkomdis.v4i3.2412
Rianto, P., Sulkhan, K. A., & Marantika, N. (2023). Cancel Culture: Mempromosikan Keadilan ataukah Pembungkaman Kebebasan Berpendapat? ETTISAL: Journal of Communication, 8(2). https://doi.org/10.21111/ejoc.v8i2.10844
Santosa, D. R. (2023). Digital Discourses Mengenai Fenomena Cancel Culture Saipul Jamil dalam Media Sosial TikTok. JIIP – Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(12). https://doi.org/10.54371/jiip.v6i12.3411.
Smith, J., & Lee, H. (2023). Cancel culture and Social Media Dynamics. New Media & Society, 25(1), 56-72.
Thomas, E., et al. (2023). Cancel Culture Can Be Collectively Validating For Groups Experiencing Harm. Frontiers in Psychology, 14, 1181872. https://doi.org/ 10.3389/fpsyg.2023.1181872
Yanuar, D., Muharman, N. ., Yudha, M. Y. T. P., Rahmawati, R., Anisah, N. A., & Maini, M. S. (2023). Cancel Culture Sebagai Bentuk Kontrol Sosial di Twitter. Jurnal Media Dan Komunikasi, 3(2), 120–135. https://doi.org/10.20473 /medkom.v3i2.44044.
Zembylas, M. (2023). The Phenomenon Of Cancel Culture Through The Social Media: Pedagogical Implications For Teacher Education. Pedagogy, Culture & Society, 32(5), 1495-1512. https://doi.org/10.1080/14681366.2023.2202192.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Sriyana Sriyana

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.












