Transformasi Mitos dan Kontra-Mitos dalam Kaba Tjindua Mato dan Sandiwara Cindua Mato: Kajian Intertekstual
Penelitian
DOI:
https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i4.6262Keywords:
Mitos; Kontra-Mitos; Intertekstualitas; Kaba Minangkabau; Transformasi Teks; Legitimasi BudayaAbstract
Tulisan ini mengkaji konstruksi mitos dan kontra-mitos dalam Kaba Tjindua Mato karya Syamsuddin Sutan Rajo Endah serta transformasinya dalam Sandiwara Cindua Mato karya Wisran Hadi melalui pendekatan intertekstual. Fokus utama penelitian adalah menelusuri bagaimana mitos-mitos tentang kekuasaan, legitimasi, dan moralitas dibangun dalam teks kaba, serta bagaimana teks modern melakukan pembacaan ulang terhadap konstruksi tersebut. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan menitikberatkan pada relasi antar-teks, terutama dalam bentuk transformasi, penyimpangan, dan reinterpretasi makna. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kaba Tjindua Mato menampilkan mitos sebagai perangkat legitimasi sosial-politik yang meneguhkan otoritas kerajaan dan nilai adat Minangkabau. Sebaliknya, Sandiwara Cindua Mato menghadirkan kecenderungan kontra-mitos melalui dekonstruksi nilai heroisme, kritik terhadap kekuasaan, serta penekanan pada realitas sosial yang lebih problematis. Dengan demikian, relasi intertekstual antara kedua karya tersebut tidak hanya memperlihatkan kesinambungan tradisi, tetapi juga menunjukkan adanya pergeseran ideologis dari penguatan mitos menuju pembacaan kritis terhadapnya. Kajian ini menegaskan bahwa teks sastra tradisional dan modern saling berkelindan dalam membentuk wacana budaya yang dinamis dalam masyarakat Minangkabau.
References
Abdullah, T. (1974). Some notes on the Kaba Tjindua Mato: An example of Minangkabau traditional literature. Indonesia, No. 9. Ithaca: Modern Indonesia Project, Cornell University.
Abdullah, T. (1970). Beberapa catatan mengenai Kaba Cindua Mato (Terj. Mien Joebhaar). Majalah Kebudayaan Minangkabau, 3–4(1). Jakarta: Yayasan Kebudayaan Minangkabau.
Barker, C. (2013). Cultural studies: Teori dan praktik. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Barthes, R. (2011). Mitologi (Terj. N. Nurhadi & A. S. Millah). Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Barthes, R. (1981). Mythologies. New York: Graha Publishing.
Culler, J. (1977). Structuralist poetics: Structuralism, linguistics, and the study of literature. London: Routledge & Kegan Paul.
Danandjaja, J. (1984). Folklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Grafiti Press.
De Josselin de Jong, P. E. (1980). Minangkabau and Negeri Sembilan: Socio-political structure in Indonesia. The Hague: Martinus Nijhoff.
Diradjo, I. G. (1923). Hikajat Tjindur Mata (Jilid I). Fort de Kock: H. Chalidi Ahmad Thaib.
Endah, S. S. R. (1987). Cindua Mato. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.
Esten, M. (1990). Tradisi dan modernitas dalam sandiwara. Jakarta: ILDEP–Intermasa.
Hatta, B. (1982). Sastra Nusantara: Suatu pengantar studi sastra Melayu. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Imran, A. (2002). Periodisasi sejarah Minangkabau. Dalam K. Rais Dt. P. Simulie (Ed.), Menelusuri sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia & LKAAM Sumbar.
Junus, U. (1985). Resepsi sastra: Sebuah pengantar. Jakarta: Gramedia.
Junus, U. (1986). Sosiologi sastra: Persoalan teori dan metode. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Kristeva, J. (1980). Desire in language: A semiotic approach to literature and art. Oxford: Basil Blackwell.
Mansoer, M. D., dkk. (1970). Sedjarah Minangkabau. Jakarta: Bhratara.
Zed, M. (2002). Orang Minang menulis sejarah mereka. Dalam K. Rais Dt. P. Simulie (Ed.), Menelusuri sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia & LKAAM Sumbar.
Napiah, A. R. (1994). Tuah Jebat dalam drama Melayu: Satu kajian intertekstualiti. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Navis, A. A. (1984). Alam takambang jadi guru: Adat dan kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Grafiti Press.
Van Peursen, C. A. (1976). Strategi kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius; Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Pradopo, R. D. (2003). Beberapa teori sastra, metode kritik, dan penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratih, R. (1994). Pendekatan intertekstual dalam penelitian sastra. Dalam Jabrohim (Ed.), Teori penelitian sastra. Yogyakarta: Masyarakat Poetika Indonesia & IKIP Muhammadiyah Yogyakarta.
Riffaterre, M. (1978). Semiotics of poetry. London: Methuen.
Jabrohim (Ed.). (2003). Metodologi penelitian sastra. Yogyakarta: Hanindita.
Selden, R. (1991). Panduan pembaca teori sastra masa kini (Terj. R. D. Pradopo). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Selden, R., Widdowson, P., & Brooker, P. (1997). A reader’s guide to contemporary literary theory. Hertfordshire: Prentice Hall.
Susanto, A. (1985). Pengantar sosiologi dan perubahan sosial. Bandung: Binacipta.
Teeuw, A. (1983). Membaca dan menilai sastra. Jakarta: Gramedia.
Van der Toorn, J. L. (1886). Tjindoer Mato: Minangkabausch-Maleisch legende. Batavia: Albrecht & Co.
Worton, M., & Still, J. (1990). Intertextuality: Theories and practices. Manchester: Manchester University Press.
Yusuf, M. (1994). Persoalan transliterasi dan edisi Hikayat Tuanku Nan Muda Pagaruyung (Kaba Cindua Mato) (Tesis magister). Universitas Indonesia, Jakarta.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Dian Permata Sari

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.












